Connect with us

Film

Film Pesugihan Karya Sutradara Hanny R. Saputra Siap Tayang

Published

on

Fokusindonesia.com, Citra Xperience XXI Jakarta 8 Februari 2023 – Persembahan PH Virgo Putra Films Duo penulis, Salman Fariz dan Oka Aurora menjadikan cerita seram berjudul Pesugihan makin bikin bergidik. Horror yang bercerita kental nuansa keluarga.

Disutradarai oleh Hanny R. Saputra dan dipersembahkan Virgo Film sejak 2018 saat pandemi. Bersama para produser Ferry Angriawan, Henry Angkasa dan Pieter Tanuwijaya…

“Yah, empat tahun menjadikan film saya yang baru ini pasti dnanti-nanti oleh para pecinta horror yang suka drama dan jalan cerita yang menarik. Apalagi dibintangi oleh aktor Nirina Zubir yang berperan sebagai Marini dan pemain lainnya, Nirina balik lagi di film saya berjudul Mirror (2005) dan ia kali ini lebih mature dan berkelas,” ucap Hanny R Saputra yang memang piawai dengan dramaturginya yang khas. Dulu Nirina berperan sebagai anak SMA bernama Kikan, tapi di Pesugihan sudah jadi ibu (Marini) dengan dua anak.

Sinopsis
HENDRI (Gary Iskak) dan MARINI (Nirina Zubir) adalah sepasang suami istri yang mencintai kedua anak mereka; RESIKA (Isel Fricella) dan KARIN (Nicole Parham). Segalanya mereka berikan demi kebahagiaan anak mereka, kecuali waktu.

Bisnis yang dijalankan Hendri dan Marini sedang berada di puncak, sehingga mereka lebih sering berada di luar rumah ketimbang menemani anak-anaknya.

Sebagai gadis yang tegas, cerdas, dan tak banyak bicara, Resikalah yang menjadi pengganti orang tua bagi adiknya – Karin, gadis yang manis, ceria, feminin, dan agak kekanak-kanakan. Kepribadian Resika yang kuat dan tenang melengkapi Karin yang ringkih, penakut, dan gampang panik. Sejak kecil, Resika adalah tempat Karin berlindung.

Sampai saat ini. Tapi sebenamya, jika Hendri sedang di rumah, jelas sekali terlihat bahwa Karinlah anak kesayangan
Hendri. Sikapnya pada Karin yang lucu selalu jauh lebih lembut dibandingkan pada Resika yang pendiam.

Marini pernah mengingatkan Hendri untuk juga memperhatikan Resika, tapi Hendri menanggapinya sambil lalu,

Di SMA mereka, Resike berpacaran DION (Randy Martin), seorang pemuda yang lucu dan banyak bicara Resika nyaman dengan Dion Pemuda itu menjadi tempatnya menceritakan masalah masalahnya. Mercks horsahahat dengan JEFTA (Naufal Azhar),cowok kurus-ringkih anak-kesayangan-mami ini selalu bersikeras memiliki indora keenem dan kemampuan supranatural. “Kemampuan” Jefta ini sering meryadi bahan terlawaan Resika dan Dion.

Sampai hari itu, segalanya sungguh baik-baik saja. Namun suatu han, Hendri dan Marini mendapat “pukulan” luar biosa; bisnis mercka ambles terkena krisis ekonomi. Hidup mercka meluncur ke titik nadir, Utang bertumpuk.

Dan tiba-tiba, rumah mereka yang tadinya selalu cerah itu berubah muram Kelam.
Sejak itu, Hendri menjadi pribadi yang murung dan suram. Sikap kebapakannya yang hangat berubah acuh tak acuh dan dingin. Upaya Resike dan Karin menghibur Hendri tak digubris sama sekali. Marni, sebagai istri dan ibu yang baik, berusaha membuat suasana rumah lebih cair, tapi tak berhasil.

Perubahan Hendri moredupkan cahaya rumah itu, tapi yang paling terpukul atas perubahan sikap Hendri adalah Karin. Suatu malam, tanpa sengaja, Marini melihat Hendri bangun diam-diam lalu bersiap-siap pergi. Marini tahu, Hendri akan pergi ke mana. Marini falu menangis, meminta Hendri tak melakukan itu, yang entah apa sebenarnya. Tapi Hendri tetap bersikeras pergi. Ternyata Hendri mendatangi sebuah pohon besar di sudut sebuah tanah kosong.

Barulah terbuka bahwa sebenarnya yang dilakukan Hendri adalah, jalan pintas untuk mendapatkan lagi kekayaannya.

Tak lama setelah itu, bisnis Hendri dan Marini naik lagi. Berbagai tender mereka menangkan dengan mudah, Utang-utang mulai terbayar. Tapi sejak itu pulalah Resika menyadari keanehan dalam sikap Karin.

Saksikan film Pesugihan  23 Februari 2023 Serentak di Bioskop Seluruh Indonesia.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Film

Film ‘Bad Boy in Love’ Karya Hanny R Saputra Siap Menghibur Penonton GenZ dengan Premis yang Relevan

Published

on

By

Fokusindonesia.com Jakarta – Film “Bad Boy in Love” adalah karya teenlit yang menyenangkan dan penuh tantangan khas GenZ dari sineas Hanny R Saputra. Hanny sangat optimis bahwa film ini akan diterima dengan baik oleh penonton karena premisnya yang sangat relevan dengan era hubungan GenZ.

“Saya takjub dan senang sekali dengan line up di film saya ini banyak hal baru berkenaan relation era GenZ yang sangat related. Saya percaya pasti banyak yang suka dengan premisnya,” ujarny Hanny

Film ini akan tayang pada tanggal 14 Maret dan akan menjadi hiburan yang menyenangkan selama bulan puasa di bulan Ramadhan mendatang. Skenario film ini tentang bad boy dalam percintaan, yang ditulis oleh penulis Oka Aurora, memiliki keunikan dan keberbedaan tersendiri. Selain itu, soundtrack film ini juga sangat dinantikan, dengan lagu “Bad Boy Falling in Love” yang dinyanyikan oleh Azhardi, lagu orisinal berjudul “Mencari Makna” yang dinyanyikan oleh Bunga Delia, dan lagu “Dunia Butuh Cinta” yang dinyanyikan oleh Claudia Kam.

Sebagai Informasi Sinopsis, Di sekolahnya, JETHRO (Jeff Smith) disegani, jago tarung satu-lawan-satu, dan cerdas. Jethro sekelas dengan SARA (Nicole Parham), gadis Solo yang pemalu, sederhana, dan rambutnya selalu dikuncir. Tujuan Sara pindah ke Bogor adalah fokus belajar agar masuk kedokteran.

Awalnya, Jethro tak memperhatikan Sara yang menurutnya kurang eksis. Sara diam-diam menyukai Jethro yang saat itu berpacaran dengan LEA (Cassandra Lee), gadis gaul idola banyak laki-laki. Suatu hari, Sara mengobati tangan Jethro yang terluka, Jethro mulai menyadari keberadaan Sara dan keduanya semakin dekat.

ANIN (Tubagus All), teman dekat Sara, tidak menerima Sara yang mulai dekat dengan Jethro, la menantang Jethro berkelahi seakan-akan memperebutkan Sara. Hal tu pun membuat Lea cemburu, mengira Jethro memiliki hubungan spesial dengan Sara. Pada akhirnya, apakah Sara dan Jethro menjadi pasangan?

Genre Film Drama, Produser Djonny Chen, Hanny R. Saputra, Rezha PN. Sutradara Hanny R. Saputra, Penulis Oka Aurora, Produksi Silent D Pictures, Casts Jeff Smith, Cassandra Lee, Nicole Parham, Garry Iskak, Dewi Rezer, Baron Y. Siregar, Tubagus Ali, Krisna Murti W, Cinta Dewi. STLS Film, 13 tahun ke atas.

Continue Reading

Film

Memperkuat Sinema Indonesia: Meningkatkan Kapasitas dan Meregenerasi Sineas Muda Melalui Kompetisi ‘Layar Indonesiana’

Published

on

By

FokusIndonesia.com, Jakarta – Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) telah mengumumkan kompetisi produksi film pendek ‘Layar Indonesiana’ dengan fokus pada regenerasi sineas muda di Indonesia. Ahmad Mahendra, Direktur Perfilman, Musik, dan Media Kemendikbudristek, menyatakan pentingnya kompetisi ini dalam mengembangkan bakat-bakat muda dalam industri film.

Ahmad mengatakan, kompetisi bertujuan untuk menjaga ketersediaan film pendek berkualitas yang diproduksi oleh talenta muda berbakat di seluruh Indonesia. “Sebagai wadah untuk meningkatkan kapasitas kemampuan para sineas, di mana penyelenggara memberikan pendampingan pada setiap tahap produksi film,” katanya di CGV Cinemas FX Sudirman, Jakarta Pusat pada, Rabu 28 Februari 2024.

“Karyanya tetap berkualitas dan secara sumber daya manusia juga teman-teman mendapatkan manfaatnya. Peningkatan kualitas ini menjadi ukuran yang wajib,” tuturnya.

Tahun 2023, ‘Layar Indonesiana’ mengadakan penyelenggaraan ketiganya dengan jumlah proposal yang diajukan mencapai sekitar 700, meningkat jauh dari 300 proposal pada penyelenggaraan pertama di tahun 2021. Ini menunjukkan antusiasme yang terus berkembang dari para pembuat film di Indonesia.

Meskipun demikian, penting untuk dicatat bahwa setiap ide cerita yang diajukan akan melalui proses kurasi oleh tim profesional. Hal ini dilakukan untuk memastikan bahwa setiap karya film pendek yang diproduksi memenuhi standar dan memiliki kualitas yang baik.

Tidak hanya itu, beberapa film pendek yang berasal dari kompetisi ‘Layar Indonesiana’ telah berhasil ditampilkan dalam berbagai festival dan meraih sejumlah penghargaan internasional. “Berarti terkurasi dengan baik. Kami mencoba menjaga kualitas dengan membangun ekosistem bagi para sineas-sineas muda,” ujarnya.

Kompetisi produksi film pendek ‘Layar Indonesiana’ tahun 2024 memiliki tema yang mencakup Kemanusiaan, Alam, dan Budaya. Batas waktu pendaftaran untuk kompetisi ini adalah hingga 30 April 2024. 10 proposal film yang terpilih akan menerima dukungan dana produksi, menghadiri lokakarya perfilman, dan mendapatkan sesi mentoring langsung dari para pembuat film profesional.

Ifa Isfansyah (Produser & Sutradara Film, Kurator Layar Indonesiana), “Tahun 2024, festival Layar Indonesiana kita melihat aspek film dari alam, cinematography. Untuk tahapan seleksi, kita melihat film itu ada impact bagi film pendek. Beberapa proposal untuk pembuatan film pendek yang sudah diterima kepada kami, juga ada program pendampingan sehingga bisa meningkatkan kualitas film pendek, ” jelasnya.

Produser Film, Sutradara, dan Kurator Layar Indonesiana, Ifa Isfansyah mengatakan untuk tahapan seleksi, kita melihat film itu ada impact bagi film pendek. “Beberapa proposal untuk pembuatan film pendek yang sudah diterima kepada kami, juga ada program pendampingan sehingga bisa meningkatkan kualitas film pendek,” katanya di lokasi yang sama.

Produser Film dan Kurator Layar Indonesiana, Yulia Evina Bhara mengatakan film pendek ini bukan saja hanya dikonsumsi dan ditonton oleh penonton Indonesia, juga bisa ditonton oleh masyarakat internasional. “Secara administrasi juga diatur dan yang terpenting adalah nilai originalitas dari film pendek tersebut,” ucapnya di lokasi yang sama.

Perwakilan dari Kemendikbudristek Nuzul Kristanto mengatakan dukungan oleh pemerintah menjadi bahan evaluasi agar lebih mendukung meningkatkan kualitas film pendek di Indonesia. “Dengan diadakannya program kompetisi produksi Film Pendek 2024 “Layar Indonesiana” yang diprakarsai oleh Kemendikbudristek RI, bisa melahirkan para sineas muda dan bakat-bakat baru sehingga bisa memajukan dunia perfilman Indonesia,” katanya di lokasi yang sama.

Continue Reading

Film

Film Women from Rote Island Sukses Menggelar Press Screening & Gala Premiere, Ajak Penonton Memerangi Isu Kekerasan Seksual

Published

on

By

Fokusindonesia.com, Jakarta, 16 Februari 2024 – Film Women From Rote Island, sebuah karya dari Bintang Cahaya Sinema dan Langit Terang Sinema yang menggambarkan keberdayaan perempuan dalam menghadapi tantangan kekerasan seksual, sukses menggelar Press Screening & Gala Premiere pada 16 Februari 2024, di XXI Epicentrum, Jakarta

Selatan. Acara tersebut dihadiri oleh Jeremias Nyangoen selaku sutradara, Rizka Shakira selaku produser, Hendry Shakira dan Ananda Maharani Putri selaku produser eksekutif, Linda Adoe selaku pemeran Orpa, Irma Rihi selaku pemeran Martha, Van Jhoov selaku pemeran Damar, dan Willyam Wolfgang selaku pemeran Ezra.

Menyusul Press Screening & Gala Premiere yang diadakan di Jakarta, pada 21 Februari 2024 mendatang akan digelar juga Gala Premiere film Women From Rote Island di Kupang, Nusa Tenggara Timur. Acara tersebut diadakan sebagai wujud apresiasi dan dedikasi terhadap kisah yang mengangkat isu yang tidak banyak disampaikan.

Dengan terselenggaranya Gala Premiere ini, harapannya dapat menjadi momentum penting dalam memberikan inspirasi serta pengetahuan lebih dalam terkait isu kekerasan seksual yang terjadi di masyarakat. Women From Rote Island, yang disutradarai oleh Jeremias Nyangoen, akan resmi tayang di bioskop-bioskop Indonesia mulai 22 Februari 2024 mendatang.

Film ini memaparkan tentang bagaimana perempuan memperjuangkan hak-haknya dalam menghadapi realitas kekerasan seksual di Indonesia Timur. Kisah ini perjuangan seorang Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang kembali ke kampung halamannya, Pulau Rote, dalam kondisi depresi akibat kekerasan seksual yang dialaminya.

Sambil menanti penayangan film, telah dirilis trailer Women From Rote Island yang dapat disaksikan di kanal YouTube dan sosial media resmi film ini, yaitu @bintangcahayasinema dan @womenfromroteisland. Trailer ini memberikan gambaran singkat tentang atmosfer dan inti cerita yang akan disuguhkan, mengundang penonton untuk merasakan kekuatan naratif yang akan dihadirkan oleh film ini.

Film ini bukan hanya sekadar kisah perempuan yang menjadi korban kekerasan, tetapi juga mencerminkan keadaan sistem hukum, kondisi sosial, dan budaya yang masih menghadang Upaya untuk memberikan keadilan kepada para korban. Linda Adoe, pemeran Orpa, mengungkapkan isi hatinya setelah dipercaya bermain di film ini, “Women From Rote Island bukan hanya sekadar film, melainkan panggilan hati untuk menyuarakan realitas kehidupan yang mungkin terabaikan. Ikut bangga rasanya bisa jadi bagian dari film yang sangat kuat pesannya seperti ini, karena bisa memberi pandangan baru dan menginspirasi penonton untuk peduli terhadap isu kekerasan seksual yang masih terjadi, bukan cuma di Rote, tapi di berbagai macam daerah di Indonesia.”

Senada dengan Linda Adoe, Jeremias Nyangoen, selaku sutradara, menyampaikan rasa bangganya karena film ini akhirnya bisa tayang di bioskop, bisa bertemu dengan lebih banyak penonton dan ia berharap film ini bisa jadi pengingat untuk lebih dekat dengan keluarga kita.

“Dengan tayangnya film ini, saya berharap penonton tidak hanya terhibur, tetapi juga lebih terbuka terhadap isu-isu sensitif seperti isu kekerasan. Jadi lebih sadar betapa pentingnya keluarga untuk cerewet dan memperhatikan anak-anaknya, keponakannya, cucu-cucunya. Karena potensi kekerasan biasanya bermula dari keluarga. Dan kekerasan ini bukan cuma terjadi pada anak perempuan, tapi anak laki-laki pun bisa jadi korban. Begitu juga sebaliknya, pelakunya bukan cuma laki-laki, tapi perempuan juga bisa. Karena itu, harus lebih pandai menjaga anak-anak kita,” ucapnya dengan lugas.

Film ini akan bercerita tentang Orpa (Linda Adoe), yang baru saja kehilangan suami dan tinggal bersama kedua anak perempuannya, harus menghadapi diskriminasi dan tradisi dengan berjuang mendapatkan keadilan dari kekerasan yang ia dan anaknya alami. Di sisi lain, Martha (Irma Rihi), anak dari Orpa pulang ke kampung halaman membawa trauma kekerasan seksual yang dialaminya saat menjadi TKI. Ketika warga di kampungnya mengetahui kondisi Martha, bukannya mendapatkan perlindungan, Martha justru kembali mendapatkan perlakuan yang tidak menyenangkan. Orpa dan keluarganya harus menghadapi diskriminasi dan bertahan dengan kondisi yang tak berpihak pada mereka.

Jangan lewatkan kisah yang menyentuh, menghibur, serta menggugah hati para penontonnya mulai 22 Februari 2024 mendatang. Bersama, mari kita sukseskan pesan keberdayaan perempuan yang diusung oleh Women From Rote Island.

Dapatkan informasi update terkait Women From Rote Island melalui sosial media resmi film ini, yaitu @womenfromroteisland dan @bintangcahayasinema.

Continue Reading

Trending