Kesehatan
Operasi Minim Risiko dan Pemulihan Lebih Cepat, RS MMC Terapkan Bedah Robotik
Fokusindonesia.com, Jakarta — Penerapan teknologi bedah robotik di Rumah Sakit Metropolitan Medical Centre (RS MMC) menandai babak baru transformasi layanan kesehatan Indonesia, tidak hanya dari sisi teknologi medis, tetapi juga dari arah kebijakan, penguatan sumber daya manusia, dan kemandirian industri kesehatan nasional.
Direktur Utama PT Kosala Agung Metropolitan (PT KAM), dr. Trisoma Pramada, Sp.B, menyatakan bahwa penggunaan teknologi bedah robotik di RS MMC merupakan komitmen nyata dalam menghadirkan layanan kesehatan modern yang presisi dan berstandar tinggi.
“Mulai hari ini Rumah Sakit MNC resmi menggunakan teknologi bedah robotik sebagai bagian dari komitmen kami menghadirkan layanan kesehatan yang modern, presisi, dan berstandar tinggi. Ini bukan sekadar lompatan teknologi, tetapi transformasi pelayanan yang meningkatkan presisi, keamanan, dan hasil klinis bagi pasien,” ujar dr. Trisoma di Jakarta. Kamis, (15/1/2026).
Menurutnya, transformasi tersebut tidak berhenti pada pelayanan klinis. PT KAM juga menyiapkan pengembangan Robotic Training Center sebagai pusat pendidikan dan peningkatan kompetensi dokter bedah serta tenaga medis. Langkah ini diarahkan agar Indonesia tidak hanya berperan sebagai pengguna, tetapi turut menjadi pusat pengembangan teknologi bedah robotik di kawasan regional.
Sementara itu, Chief Executive Officer RS MMC, dr. Isnindyarti, MKM, menekankan bahwa kehadiran layanan bedah robotik merupakan bagian dari komitmen jangka panjang rumah sakit dalam meningkatkan mutu pelayanan kesehatan yang berorientasi pada keselamatan pasien.
“Peluncuran layanan robotik ini bukan hanya menghadirkan teknologi baru, tetapi merupakan wujud komitmen kami dalam meningkatkan mutu pelayanan kesehatan yang aman, bermutu, dan berorientasi pada keselamatan pasien. Teknologi ini memungkinkan tindakan yang lebih presisi, minim invasif, dan mempercepat pemulihan pasien,” jelasnya di lokasi yang sama.
Ia menambahkan, implementasi teknologi robotik juga mencerminkan keseriusan RS MMC dalam pengembangan sarana, prasarana, dan teknologi kesehatan modern, sejalan dengan usia RS MMC yang telah memasuki 39 tahun. Seluruh layanan tersebut ditopang oleh profesor dan dokter spesialis berpengalaman agar manfaat teknologi dapat dirasakan secara optimal oleh masyarakat.
Dari sisi kebijakan nasional, Direktur Jenderal Kesehatan Lanjutan Kementerian Kesehatan RI, dr. Azhar Jaya, S.H., SKM., MARS, menilai pengembangan layanan bedah robotik harus diarahkan pada efisiensi sistem kesehatan dan kemandirian teknologi.
“Teknologi robotik bedah akan terus berkembang dan semakin dibutuhkan masyarakat. Indonesia tidak boleh hanya menjadi pengguna, tetapi harus mampu memproduksi sendiri,” tegas dr. Azhar.
Ia mengungkapkan bahwa Kementerian Kesehatan tengah menyiapkan anggaran sekitar Rp1–2 triliun untuk pengembangan teknologi robotik di rumah sakit pemerintah. Namun, pengadaan tersebut harus disertai lokalisasi produksi, termasuk kemampuan memproduksi suku cadang dan spare part di dalam negeri agar biaya operasional lebih terjangkau.
Dr. Azhar juga mengajak rumah sakit pemerintah dan swasta untuk menyusun peta jalan pemanfaatan robotik nasional serta melakukan pengadaan secara kolektif guna menekan harga dan meningkatkan efisiensi, terutama dalam mendukung keberlanjutan pembiayaan BPJS Kesehatan.
“Pemanfaatan kecerdasan buatan di bidang radiologi dan patologi anatomi tidak akan menggantikan peran dokter, tetapi justru meningkatkan kapasitas dan kecepatan pelayanan. Pengalaman pandemi mengajarkan bahwa kemandirian teknologi adalah kunci agar layanan kesehatan tidak rentan saat krisis,” pungkasnya.
Peluncuran layanan bedah robotik RS MMC ini diharapkan menjadi model kolaborasi antara rumah sakit swasta, pemerintah, dan industri teknologi kesehatan dalam membangun ekosistem layanan medis berpresisi tinggi yang berkelanjutan dan inklusif bagi masyarakat Indonesia.
(sum)

